kisah ibu Is

Suatu hari telepon di Yayasan Santi Rama berdering, di seberang sana seorang ibu (sebut saja ibu Is) pimpinan sebuah LSM yang bergerak dalam bidang bimbingan dan penyuluhan bagi remaja putri dari daerah miskin yang terjebak kedalam dunia pelacuran.

Pada awalnya ibu Is ketika bertugas di sebuah desa diluar kota Jakarta, beliau bertemu dengan seorang gadis tunarungu (sebut saja Nana), seumur hidup ibu Is belum pernah bertemu dengan anak/orang tunarungu, apalagi melakukan komunikasi dengan tunarungu yang hanya menguasai isyarat local dan beberapa patah kata yang ucapannya sulit di tebak maksudnya.

Entah mengapa, ibu Is terketuk hatinya untuk segera mengeluarkan Nana cantik ini dari lembah hitam. Namun berkat niat yang tulus, dengan segala cara ibu Is dapat membujuk hati Nana untuk meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Syukur, ibu Is berhasil membawa Nana ke rumahnya di Jakarta.

Ibu Is tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, dan bagaimana harus membicarakan rencananya karena ibu Is buta tentang pendidikan tunarungu, maka beliau mengkonsultasikannya pada Direktorat PSLB untuk menentukan langkah selanjutnya. Ibu Is mendapat saran agar masalah ini dibawa ke Santi Rama, akhirnya datanglah suatu siang ibu Is ke Santi Rama bersama Nana.

Apa gerangan masalah yang dibawa ibu Is?, ibu Is ingin memberikan bimbingan dan penyuluhan agar Nana bias menapaki hidup wajar layaknya wanita-wanita lain seumurnya. Di samping itu bu Is ingin mengetahui cara menanyakan data pribadi Nana yang sebenarnya terlebih dahulu, dan ibu Is juga ingin tahu cara menjelaskan maksud bu Is membawanya ke Jakarta.

Dari keluarga dan dari Nana sendiri, Bu Is telah berhasil memperoleh informasi tentang latar belakang hidupnya sebelum masuk dunia gelap. Bu Is saat ini juga sudah lega karena Nana sungguh tak sudi lagi kembali ke desanya lebih-lebih ke tempat lokalisasi yang penuh derita.

Inilah kisah Nana sebelum diselamatkan oleh ibu Is.

Di sebuah kota di daerah Jawa Barat, Nana tinggal bersama orang tuanya, tak jauh dari tempat tinggal Nana ada sebuah sekolah. Nana tumbuh layaknya gadis remaja, ia cantik dan lugu, namun kecantikan dan keluguannya memberinya pengalaman pahit yang mungkin takkan terlupakan seumur hidupnya bahkan menghancurkan masa depannya. Bagaimana tidak hancur, ia mengaku dikhianati, dipaksa melayani niat jahat laki-laki yang kenalnya. Ketika gagal menuntut itu. Nana bermaksud mencari pekerjaan guna membiayai hidup anaknya.

Nana didatangi seorang wanita yang mengaku sanggup mencarikan pekerjaan untuknya. Ia diajak mencari pekerjaan ke Saudi Arabia, tak pernah disangka dan dibayangkan sebelumnya ternyata Nana dipekerjakan sebagai wanita penghibur.

Pekerjaan berat tanpa gaji yang sesuai membuat Nana melarikan diri, namun belum sempat jauh Nana lari, seseorang menangkapnya dan dikembalikan lagi ketempat ma`siat.

Karena Nana sudah berumur lebih 20 tahun, Santi Rama menyarankan agar bu Is berhubungan dengan Panti Rehabilitasi Penyandang Cacat Rungu Wicara di Bambu Apus milik Departemen Sosial.

Mudah-mudahan Nana masih bisa dididik dan diberi bekal keterampilan kerja disana, sehingga dia akan mampu mandiri untuk menghidupi dirinya sendiri dan akhirnya mampu membesarkan anaknya.

Kejadian serupa yang menimpa Nana telah beberapa kali terjadi di Jakarta dan Santi Rama telah beberapa kali juga diminta ikut menyelesaikannya. Santi Rama diminta bersaksi di kantor polisi, dan menjadi penerjemah di Pengadilan karena keterbatasan bahasa dan cara berkomunikasi tunarungu mereka.

Mengapa hal demikian bisa menimpa Tunarungu?

Pertama-tama telah kita amati, peristiwa serupa Nana pada umumnya menimpa tunarungu yang penguasaan bahasanya sangat terbatas. Jika tidak mendapat bimbingan secara tepat, sering muncul suatu ciri atau sifat impulsif, yang mengakibatkan tindaknya tidak di dasarkan perencanaan yang hati-hati dan jelas, serta tanpa mengantisipasi akibat yang mungkin timbul dari perbuatannya. Apa yang mereka inginkan biasanya perlu segera dipenuhi, sukar bagi mereka untuk merencanakan atau menunda suatu pemuasan kebutuhan dalam jangka panjang (Penguasaan Bahasa Anak Tunarungu hal.27). hal itu bisa sangat fatal dan membahayakan bagi mereka. Dari beberapa kasus, tunarungulah yang pada akhirnya, tanpa dapat menuntut perlakukan adil bahkan dari pengadilan sekalipun. Ironis sekali!

Secara sederhana penulis berpikir, mungkin saja perkembangan rohani dan perkembangan jasmani seringkali tidak berjalan sering. Mereka tidak pernah mendengar cerita tentang pengalaman-pengalaman nyata yang sering menimpa gadis-gadis remaja, misalnya si A begini karena anu, si B begini karena anu dsb.

Ketika jasmani mereka tumbuh bak orang dewasa, naluri seksualpun berkembang menyertainya, bahkan adakalanya datang lebih cepat dibandingkan dengan anak dengar/normal seusia mereka.

Ketika bujuk rayu dari lawan jenisnya datang dengan sedikit sentuhan saja, reaksi spontan mereka dibendung. Mereka tidak cukup memiliki penyaring, apakah ini boleh atau tidak, apakah ini berbahaya atau tidak apa-apa, apakah ini akan berakibat buruk atau biasa saja.

Permasalah bagi kita sekarang, dapatkah peristiwa semacam itu dihindari?. Siapa saja yang bias mengupayakan?. Apa yang sudah dilakukan sekolah, apa yang bisa dilakukan keluarga di rumah?. Sederet pertanyaan tersebut menuntut pemikiran dan penanganan yang pasti dan segera.

Maka pada setiap mejelang akhir jenjang pendidikan di SLTPLB dan SMLB, Santi Rama selalu memberikan bimbingan seksual dan bimbingan keluarga bagi para siswa karena bimbingan itu akan dapat disampaikan kepada siswa hanya kalau mereka memiliki bahasa, maka terlebih dahulu kami:

  • Memberikan ketrampilan berbahasa dan berkomunikasi dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Santi Rama telah berketetapan melakukan pengembangan kemampuan berbahasa peserta didiknya secara terus menerus. Tentu saja dalam hal ini orang tua juga dapat berperan secara aktif unutk melakukan bimbingan berbahasa anaknya bersama-sama sekolah.
  • Kedua, bimbingan atau pendidikan seksual perlu dikembangkan sejak dini, sejak di jenjang TKLB. Agar sejak dini pula peserta didik menyadari dan menyadari dan memahami bahwa: Dirinya adalah anak laki-laki atau anak perempuan. Tumbuh dan berkembang dari bayi sampai dengan usia dewasa.
  • Dalam proses tumbuh dan kembang seorang bayi memerlukan perawatan, perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Dirinya adalah diciptakan tuhan sebagai makhluk hidup yang memiliki bermacam-macam kemampuan.
  • Pertumbuhan anak remaja, jenis kelamin laki-laki berbeda dengan jenis kelamin perempuan.
  • Pada masa bayi hingga masa praremaja perasaan seksual anak laki-laki dan perempuan masih polos.
  • Pada usia tertentu manusia memiliki perasaan ingin terlihat rapi, cantik, ganteng, saling tertarik antara jenis kelamin yang berbeda untuk mencari pasangan hidupnya, dan akhirnya masuk jenjang perkawinan.
  • Perkawinan harus didasari rasa cinta kasih dan memiliki tanggung jawab yang besar untuk menyelenggarakan kehidupan rumah tangga dan membesarkan anak-anak. Maka setiap calon Bapak atau ibu harus punya bekal ketrampilan kerja.

Dalam hal ini orang tua dan keluarga di rumah dapat memberikan contoh-contoh yang dapat diteladani anak-anak terutama menjaga penglihatan mereka agar tidak menyaksikan pemandangan-pemandangan yang seharusnya mereka lihat, atau memberikan informasi yang tepat tentang apa yang mereka lihat.

Sumber: http://www.santirama.sch.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: