Anak autis itu telah kembali

Ilham, namanya. Usianya 13 tahun. Ia hilang sejak 16 Oktober 2007. Tulisan ini ditulis ketika ia baru saja ditemukan di sekitar Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Sekitar 30 kilometer dari rumahnya di Bintaro dan setelah 8 hari lamanya.

Tulisan ini merupakan bentuk rasa bahagia dan syukur kami atas ditemukannya Ilham.Ilham yang cenderung hiperaktif dan tak mampu berkomunikasi ini keluar dari rumahnya, ketika kebetulan ibunya lupa mengunci pintu. Ia leluasa keluar dan mampir ke tetangga sebelah rumahnya.

Sungguh, bagi kami orang tua yang memiliki anak penyandang autis, kejadian ini membuat kami ikut bersedih. Seakan-akan yang hilang itu anak kami sendiri. Kami hanya bisa membayangkan sulitnya menemukan anak yang hilang. Lebih sulit lagi, anak yang hilang ini merupakan anak autis yang sangat kurang, dan cenderung tak mampu berkomunikasi dua arah.

Mencari anak hilang  yang normal saja, dalam arti bisa berkomunikasi dan bisa berbicara,  sulitnya minta ampun, apalagi jika anak yang dicari ini tak mampu berkomunikasi dan  berbicara. Bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami.

Yang membuat kami lebih sedih, ternyata Ilham pergi, setelah sebelumnya sempat mampir ke rumah tetangga. Sejenak kemudian, Ilham diusir oleh tetangganya, karena Ilham mengganggu kenyamanan mereka yang sedang menonton film dari VCD.

Memang, biasanya anak autis senang kepada televisi. Jika melihat televisi ia akan menekan tombol-tombol saluran yang ada di televisi ini dengan tidak beraturan. Mungkin ini yang membuat kesal tetangganya, dan kemudian mengusir Ilham.

Kejadian ini membuat kami teringat anak perempuan kami, Tita. Ia penyandang autis juga. Sudah banyak kemajuan yang mampu dilakukannya pada usianya yang menginjak sembilan tahun. Tetapi tetap saja ciri-ciri autisnya tetap ada.

Dulu, kejadian seperti ini pernah kami alami beberapa kali. Hanya saja tetangga-tetangga saya sudah sangat mengerti. Sehingga biasanya jika kejadian seperti Ilham terjadi, Tita pasti diantar langsung ke rumah kami.

Maklumlah, keluarga kami hanya keluarga kecil dan tidak berkelebihan. Kami tak mampu mengupah orang lain untuk menjaga Tita. Kepada ibunda-nya saja Tita dipercayakan pengasuhannya.

Namun begitu, kami menyadari suatu saat bunda-nya Tita pasti lengah. Sebab, urusan rumah tangga kami yang ditanganinya sendiri, pasti membuatnya sering mengalami kesulitan. Belum lagi urusan terapi Tita sepanjang hari, ditambah lagi adiknya yang membutuhkan perhatian juga.

Untuk mengatasinya, kami sering beranjangsana ke rumah tetangga sambil membawa Tita di waktu senggang. Saya sendiri, kadang bersama istri perlahan-lahan mengenalkan Tita pada keluarga yang menjadi tetangga kami, juga tetangga-tetangga sekeliling komplek.  Biasanya kami berterus terang dengan kondisi Tita kepada mereka, dan selalu memohon pengertian akan kondisi anak kami. Serta kami akan berusaha menjadi tetangga yang baik kepada mereka. Dan berusaha mengurangi konflik dengan tetangga seminimal mungkin, agar mereka bisa membantu kami, bila ada kejadian seperti Ilham terjadi.

Setelah itu, ada tetangga yang bilang pada saya, aib keluarga kenapa
diberitahukan kepada orang banyak. Kami menjawab, anak kami bukan aib. Dia titipan dariNYA. Dan kami bangga ketika Tita menjadi salah satu bagian dalam episode kehidupan ini. Berkat  Tita, kami menjadi makin sadar akan kelebihan dan kekurangan orang lain.

Selain itu, banyak kemajuan penting buat saya, ayahnya, yang saya capai sejak Tita terdiagnosa autis. Karir serta penghasilan terus meningkat seiring waktu, meski bermodalkan ijazah  seadanya. Semua itu tak terbayangkan, bahkan sesaat sempat putus asa mengetahui anak kami autis di tahun 2000.

Di waktu-waktu terakhir ini banyak pertanyaan dari keluarga dan rekan-rekan saya. Mereka menanyakan, ada sebuah buku mengenai seorang ayah, yang anaknya autis terpajang di toko buku. Nama penulisnya sama dengan nama saya.

Satu pertanyaan yang banyak mereka tanyakan kepada saya, sejak kapan menjadi penulis. Saya hanya tersenyum saja mendengarnya.

Jelas mereka tak pernah tahu, bahkan istri saya pun tidak pernah tahu. Lembar demi lembar buku harian yang bertaburan air mata sudah saya tulis, untuk menghilangkan kesedihan dan keputus-asaan memiliki anak autis. Tulisan yang ada dalam buku itu hanyalah beberapa diantaranya.

Pada akhirnya, hanya rasa syukur yang dapat saya panjatkan atas rahmat illahi, sehingga saya memiliki kesempatan untuk mengabdi padaNYA lewat kekurangan anak saya.

Sungguh begitu berat memiliki anak yang berbeda. Apalagi sering mendapat perlakuan yang tidak layak dari lingkungan rumah, dan tentu saja keluarga yang paling dekat sekalipun.Yang kadang tidak mengerti dan tidak tahu situasi, lalu menjelma menjadi sosok ahli yang kadang lebih sok tahu dari kami, yang telah berusaha bertahun-tahun mengatasi kesulitan ini.

Dulu, di lingkungan kami, seringkali orang sulit memahami. Dan biasanya langsung mengambil kesimpulan anak autis itu sama dengan orang yang sakit jiwa. Ungkapan ini pernah kami rasakan serta dengar langsung, di tahun-tahun yang lalu. Kini keadaannya sudah lebih baik.

Padahal kalau mereka mau berfikir sedikit saja, tidak akan pernah kita menemukan orang sakit jiwa yang berusia balita. Semua penyandang penyakit jiwa pasti terjadi setelah masa anak-anak atau remaja lewat.

Sedih, melihat masyarakat kita terlalu mudah memberikan stigma kepada orang lain yang berbeda dengan manusia kebanyakan.

Pagi ini, saya bersyukur kepadaNYA, pernah berkenalan dan berteman dengan para ibu dan bapak yang peduli serta terpercaya, yang telah dipersatukan oleh miliswww.puterakembara.org sehingga kejadian yang menegangkan selama 8 hari ini, mampu diatasi dan berakhir bahagia.

Tidak bermaksud menggurui atau menasehati, hanya sekedar curahan hati yang galau mendengar ada anak autis yang hilang berkali-kali di negerinya sendiri. Semoga ini yang terakhir terjadi.

Sumber: http://www.family-writing.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: