Nasib Malang Si Bocah Hiperaktif HUKUMAN NENEK & PAMAN BERBUNTUT KEMATIAN

Kewalahan mendidik si bocah Bastian, nenek dan pamannya memberi hukuman fisik. Hukuman yang kebablasan itu justru mengantar mereka ke tahanan.
Polsek Metro Penjaringan, Jakarta menerima laporan dari Rumah Sakit (RS) Atmajaya perihal seorang bocah yang tewas secara tak wajar. Pihak RS juga mengatakan, bocah bernama Sebastian Rajasa (6) itu dibawa oleh kerabatnya ke RS dan dikatakan sakit karena jatuh dari tangga.

“Saya segera memerintahkan anak buah ke RS. Ternyata benar, setelah petugas kami mengecek keadaan korban, banyak hal-hal mencurigakan. Dia tewas karena benda tumpul pada perut yang mengakibatkan pankreas pecah dan perdarahan,” jelas Kapolsek Metro Penjaringan Komisaris Polisi Drs. Moch. Hendra S. pada NOVA Selasa (5/4).

Petugas pun segera menyelidiki kasus ini. Menurut Hendra, ternyata siswa SD Tarakanita 4, Pluit, Jakarta Timur itu, meninggal setelah dianiaya neneknya, Christela br Panggabean, dan dua pamannya, Simon Sinaga (19) dan Satria Sinaga (21). Kenapa peristiwa mengenaskan itu terjadi?

GIGI DEPAN TANGGAL
Dikatakan Hendra, Christela sudah cerai dari suaminya, Sahala Sinaga, 13 tahun silam. Ia tinggal bersama Simon dan Satria di Jalan Pluit Raya, Jakarta Utara, sedangkan sang suami tinggal bersama anak sulungnya, Sari Donda Maduma (27). “Sebastian adalah anak Sari yang lahir di luar nikah. Sejak kecil, Sebastian diasuh Chistela. Namun, Sebastian tumbuh jadi anak yang tidak dikehendaki keluarga besarnya,” kisah Hendra.

Menurut Hendra, Sebastian anak hiperaktif. Bisa jadi, inilah yang menjengkelkan Christela dan dua anaknya hingga terjadi peristiwa mengenaskan di hari Sabtu (2/4) pukul 10.30 itu. “Setelah kami selidiki, Sebastian disiksa oleh nenek dan dua pamannya karena kelakuannya menjengkelkan mereka. Puncak kejengkelannya, Sebastian pipis di kasur dan menyimpan celana bekas kencingnya di lemari neneknya,” papar Hendra.

Untuk memberi pelajaran pada Sebastian, Christela dan dua anaknya mengikat lengan Sebastian dengan tali yang disambungkan ke tangga besi. Lalu, bocah malang itu dipukuli. “Akibatnya gigi depannya tanggal. Pipi kirinya juga tidak luput dari tamparan bertubi-tubi.”

Saat memeriksa tersangka, “Semula mereka tidak mengakui perbuatannya. Christela malah mengatakan, korban meninggal setelah jatuh dari tangga,” ujar Hendra seraya mengatakan, pengakuan Christela bohong belaka. “Padahal, Watiah yang jadi pembantu mereka melihat ketika korban ditendang Simon dan ditampar Christela. Pembantu lain, Suherman, mengaku disuruh Satria memegangi Sebastian ketika Satria mengikat tangan korban di tiang tangga rumah.”

Tiga tersangka ini, lanjut Hendra, akan dijerat pasal 351 jo pasal 170 KUHP karena telah sengaja dan bersama-sama menganiaya korban hingga tewas. “Ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara,” tandas Hendra.

TAK SEGAN MEMUKUL

Ketika ditemui NOVA pekan silam, abang beradik Simon Sinaga dan Satria Sinaga langsung menutup wajahnya dengan sapu tangan. Ketika ditanya mengapa ibunya tidak mau ditemui NOVA, Satria berucap, “Jangan libatkan ibu saya, beliau tak bersalah. Saya yang memukul Sebastian. Makanya saya siap bertanggung jawab.”

Anak ketiga dari lima bersaudara ini mengaku tega melakukan perbuatan itu karena kenakalan Sebastian sudah melampaui batas. “Sehari-hari kelakuan bocah itu membuat kesal saya dan keluarga. Selain nakal, dia suka bohong. Bahkan, kenakalannya dilakukan berulang-ulang. Coba, siapa yang enggak geregetan lihat kenakalannya,” ujar pria yang belum bekerja ini.

Bila Sebastian nakal, kata Satria, tak segan ia memukulnya. Ia lupa kapan pertama kali melakukannya. “Yang pasti setahun lalu. Dia baru saya pukul bila nakal di depan kami. Kalau dia sudah minta maaf, saya akan hentikan pukulan. Kalau nakalnya masih sewajarnya, sih,
enggak masalah. Ini kelakuannya sudah enggak wajar lagi,” aku Satria.

Salah satu contohnya, Sebastian pernah mencuri uang temannya. “Saya berusaha menegurnya secara halus, tapi tidak mempan. Makanya saya pukul dia,” kata Satria seraya mengaku, dialah yang paling sering memukul Sebastian. “Ibu dan Simon hanya mukul kalau tingkah Sebastian sudah melampaui batas.”

Sebastian yang mulai tinggal di rumah itu sejak usia tiga tahun menurut Satria adalah anak angkat. “Secara hukum, Sebastian sudah diadopsi Ibu sejak kami tinggal di Pluit. Orang tuanya tidak ada. Saya enggak mau komentar kalau ada yang mengatakan, Sebastian anak dari kakak sulung saya (Santi).”

Sumber: http://www.nostalgia.tabloidnova.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: